EKARISTI DAN ADORASI PENUTUP BULAN ROSARIO 
Saturday, October 31, 2009, 20:12 - NEWS/BERITA
Sejak sore hari, para peziarah sudah berdatangan. Bahkan siang hari pun banyak peziarah datang berdoa. Mungkin ini karena malam minggu dan cuaca cerah. Banyak dari mereka adalah kaum muda.

Tepat pukul 21.00 wib, perayaan ekaristi dimulai. Romo YS Witokaryono PR (Pastor Paroki St. Ignatius Magelang sekaligus Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Kedu), Rm. Singgih Guritno PR (Pastor Paroki Sumber Dukun sekaligus Moderator Kepemudaan Kedu) dan Rm Agustinus Ariawan PR (Pastor Kepala Paroki Promasan) berkenan merayakan ekaristi. Tema ekaristi adalah “kencan dengan Tuhan”. Dengan tema tersebut, umat diajak menyadari betapa besar kasih Allah kepada manusia sekaligus menyadari seberapa besar manusia menanggapi kasih itu.


Perayaan ekaristi dikemas secara berbeda. Pada pernyataan tobat, tidak dinyanyikan Tuhan Kasihanilah kami. Bagian ini diganti dengan penampilan drama oleh kaum muda Kedu. Drama dimulai dengan tampilan “pelacur” yang dianggap dibuang oleh mucikari karena sudah tidak menghasilkan uang. Di situ pula si pelacur menyadari dirinya sebagai orang yang berdosa. Ia ingin kembali ke jalan yang benar. Namun keinginannya itu ditolak oleh orang-orang yang dianggapnya mampu menolong. Bahkan pastor pun yang dianggap “penolong” menolak. Ia dianggap tidak layak hidup bersama orang lain.Dalam kegalauannya ia menemukan Yesus yang masih bersedia menerima. Yesus menerima diri apa adanya.


Setelah pembacaan Injil, drama dilanjutkan. Dengan segala usahanya si pelacur mencari jalan terang. Ia ingin masuk gereja tetapi dihadang oleh orang-orang. Orang-orang yang dianggap suci menggunakan kekerasan. Dengan wajah bertopeng, mereka menolak kehadiran pelacur. Usaha dan mati raga yang dilakukan pelacur untuk menunjukkan perubahan hidupnya ternyata tidak mampu melembutkan hati para penghadangnya. Kisah pertobatan ini dikupas Romo Wito dalam kotbahnya. “ada banyak orang ingin bertemu dengan Yesus, tetapi sering kita menghalanginya dengan berbagai alasan.” Egosime diri telah merusak manusia lainnya. OMK Kedu menjelaskan bahwa: si pelacur adalah lambing situasi hidup manusia yang dengan sengaja menolak kasih Allah. Namun tidak berarti bahwa manusia tidak bisa berubah. Pertobatan merupakan jalan kembali pada kasih Allah. Dan belum tentu orang yang merasa “suci”, bisa merasakan kasih Allah. Romo Wito juga memberikan contoh-contoh konkrit dalam hidup sehari-hari bagaimana manusia dengan sengaja menghalangi orang bertemu dengan Tuhannya. Mewartakan kasih dalam kehidupan sehari-hari menjadi medan nyata dan wujud dari kesadaran akan kasih Allah. Allah sangat mengasihi manusia dan manusia mempunyai tanggungjawab untuk menanggapinya. Tetapi tanggapan akan kasih Allah merupakan pilihan. Orang bebas memilih: tanggapan macam apa yang akan diambil.


Akhir ekaristi dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus ke kapel Maria Bunda Segala Bangsa yang terletak di atas goa Maria. Didahului oleh penari, misdinar dan Sakramen Mahakudus perarakan berjalan kidmad. Hingga di kapel Maria, Sakramen Mahakudus disembah di tiga titik. Menurut rencana adorasi dilaksanakan sampai jam 06.00 pagi. Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk mengadakan adorasi salama satu jam. Mereka yang beradorasi sebagian besar terdiri dari kaum muda dari kevikepan Kedu, Yogyakarta dan beberapa peziarah.



Comments 

Add Comment

Fill out the form below to add your own comments.









Insert Special: