|
Tuesday, May 11, 2010, 14:21 - RENUNGAN
Posted by Administrator
Ada umat yang suka mengikuti Misa di paroki lain dari pada di parokinya sendiri. Bahkan tidak hanya ke satu paroki namun mereka suka berpindah-pindah dari paroki yang satu ke paroki yang lain. Ada umat yang sama sekali tidak mau Misa di parokinya sendiri. Ada juga umat yang lebih memilih menjadi pengurus di paroki lain. Berbagai macam alasan diajukan, entah karena di paroki lain parkirnya luas, Misanya cepat, homilinya menarik, bisa bertemu umat lain dari berbagai tempat dan seribu macam alasan yang lain.Posted by Administrator
Sikap seperti ini sebenarnya kurang bijaksana. Mengikuti Perayaan Ekaristi tidak hanya sekedar selera atau karena pertimbangan senang atau tidak senang, menarik atau tidak menarik. Mengikuti Ekaristi berarti mengembangkan nilai ekklesial atau paguyuban gerejawi. Dan nilai ekklesial atau paguyuban gerejawi itu paling tampak dalam hidup berparoki. Untuk itu, kita diajak untuk mencintai paroki sendiri, mengembangkan nilai sense of belonging, rasa memiliki atau menjadi bagian paroki dimana kita tinggal. Entah paroki kita jelek atau baik, pendek kata seperti apapun keadaan paroki kita, itulah paroki yang wajib kita cintai. Mencintai yang benar biasanya bukan atas pertimbangan senang dan tidak senang, amun atas dasar kerelaan berkurban. Amat tidak pas bila Misa mingguannya di paroki lain, sedangkan urusan-urusan lain seperti kalau ada perlu (pernikahan, kematian saudara) baru di parokinya sendiri. Saat senang orang pergi ke paroki lain, saat sedih atau mempunyai kebutuhan orang baru mengadu pada tempatnya sendiri. Rasanya sikap seperti ini kurang bijaksana.
Marilah kita mencintai paroki kita masing-masing, entah sesuai atau tidak sesuai dengan selera kita. Suka dan duka paroki kita merupakan suka dan duka kita. Paroki kita adalah harta yang tak ternilai dalam kehidupan menggereja kita. Paroki kita adalah keluarga yang harus kita cintai dan kembangkan.
|
|
Friday, April 30, 2010, 06:23 - RENUNGAN
Posted by Administrator
RENUNGAN BKL 2010Posted by Administrator
Hari 1
Bergembira dan memuliakan Allah adalah ciri utama umat beriman yang mengalami kebaikan Allah, mengalami keselamatan yang datang dari Tuhan. Dalam Kitab Suci, kita banyak menemukan teks yang menyebutkan kegembiraan orang yang mengalami keselamatan dari Tuhan (mis. Kis 13:48). Refren pada Mazmur Tanggapan pada bacaan Misa hari ini juga mengumandangkan suasana hati yang sama: Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita (Mzm 98). Istilah lain dari bergembira dan memuliakan Allah adalah bersyukur! Dan apabila bersyukurnya itu sepanjang tahun, maka seluruh tahun itu disebut Tahun Syukur.
Tahun 2010 ini menjadi Tahun Syukur umat beriman se Keuskupan Agung Semarang. Ada banyak alasan untuk bersyukur bagi kita. Syukur atas ulang tahun KAS yang ke-70 tahun, yang persisnya besok tanggal 25 Juni; syukur atas semangat berbagi sebagaimana digulirkan KEK I dulu (Kongres Ekaristi tahun 2008); syukur atas keterlibatan anak, remaja, kaum muda dan keluarga; syukur atas Tahun Imam 2009-2010; dan tentu saja syukur atas habitus baru yang digulirkan Ardas 2006-2010. Kita juga telah mengetahui bahwa tema Tahun Syukur KAS ini adalah Terlibat Berbagi Berkat.
Pujian-syukur ternyata adalah tindakan paling puncak yang dibuat Gereja dalam hidup imannya sepanjang sejarah! Apabila umat beriman mampu bersyukur, umat beriman telah sampai pada inti puncak yang pantas dibuat bagi Allah, sesama dan alam lingkungan, karena pujian-syukur inilah makna asli dari kata EKARISTI, yang berasal dari kata Yunani: eucharistia yang artinya ya itu tadi: pujian syukur. Padahal Gereja meyakini sepanjang sejarahnya bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan umat kristiani (Konstitusi Dogmatis dari Konsili Vatikan II: Lumen Gentium no. 11). Konsekwensi wajar dari rumusan Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh kehidupan umat kristiani ialah bahwa pujian syukur menjadi acara dan kegiatan sentral dan puncak dari seluruh hidup umat beriman, termasuk di Keuskupan Agung Semarang.
|
|
Thursday, March 25, 2010, 00:49 - RENUNGAN
Posted by superadmin [Administrator]
“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa!” (Mrk 9:19)Posted by superadmin [Administrator]

Kerassssssssssss..... Sambil senyum-senyum, aku mentertawakan diriku sendiri: jangan-jangan aku termasuk yang hanya bisa diusir dengan doa... hahahahaha.... dari pertanyaan ini, mengalirlah permenunganku.
Mengapa hanya bisa diusir dengan berdoa. Terlalu beratkah? Rasanya kok emang terlalu berat sehingga hanya bisa diusir dengan doa. Yang terlalu berat, menurut aku, adalah NDABLEG. Aku agak sulit menterjemahan dan mengartikan kata ndableg ini. Biarlah tertulis seperti itu saja. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan. Semua orang tau, klo tempat menaruh sampah itu di tempat sampah. Tapi kenapa ketika kita naik mobil lalu membuka jendela dan berrrrrrrrrrrrrrrr... sampah melayang entah kemana. Semua orang tau, klo mencuri itu dilarang. Tetapi kenapa masih ada saja orang yang melakukan aksi pencurian.. Dasar ndableg! Tau klo salah, tapi tetep aja dilakukan.
Mengapa dengan doa? Banyak orang bisa memberikan kesaksian bahwa doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati akan memiliki daya ubah yang luar biasa. Kalau pun tidak memiliki daya ubah untuk orang lain, akan mengubah diri sendiri. Dalam doa-doa kita, Allah berkarya secara luar biasa.
Ada seorang sahabat yang bertanya, “Mo, kok doaku itu-itu saja ya? Kadang jadi males.. bosen!”. hmmm... Mengapa bisa demikian? Ada berbagai kemungkinan: doa sejauh ada lama teks dan hafalan, doa sama dengan permohonan dan yang diminta cuma itu-itu melulu, de el el. Karenanya doa menjadi sebuah ritus yang membosankan. Bisa jadi lalu timbul pikiran, “Ah, Tuhan sudah tau!” Akhirnya malah tidak berdoa. Sekali lagi NDABLEG! Hehehehehe... Tentu kita pingin doa-doa kita menjadi doa yang hidup. Nah, doa itu pertama-tama syukur. Kalau doa itu adalah syukur kita, maka apa yang kita buat dan lakukan setiap hari merupakan bahan doa yang tak akan pernah habis, apalagi membosankan.
Ndablegkah Anda?
|
|
Wednesday, June 17, 2009, 02:42 - RENUNGAN
Posted by superadmin [Administrator]
Suatu saat, frater kami membagikan pengalaman live-in di tempat orang-orang yang cacat, debil, embisil, atau idiot. Di tempat seperti itu, ada saudara-saudara yang memang harus dibantu 100% untuk makan, minum, mandi, sikat gigi, memakai pakaian, dsb. Ada juga yang sudah bisa mengatur beberapa tindakan bagi dirinya sendiri. Namun justru di tempat seperti itu, para frater kami malah mendapat pengajaran menghormati orang lain lewat perilaku seorang anak. Anak (cacat) tersebut setiap lewat di depan orang (entah lebih tua ataupun muda) selalu mengucapkan kata permisi dengan sangat sopannya, sambil menundukan badan dan kepalanya. Frater tadi merasa terpukul dengan perilaku anak yang dikatakan cacat namun malah tahu sopan santun.Posted by superadmin [Administrator]
Spiritualitas atau semangat yang selalu saya berikan kepada para frater (orang-orang muda) yang kami dampingi adalah: Bila engkau memberi, orang yang menerima tidak akan menjadi kaya, dan engkau sendiri tidak akan menjadi miskin! Dengan kata-kata ini, diharapkan orang lebih mudah untuk berbagi. Orang menjadi lebih mudah mengulurkan tangan untuk memberi. Tidak hanya berbagi dalam bentuk makanan atau uang saja, namun juga dalam pengetahuan: berbagi talenta yang kita terima dari Tuhan. Dengan demikian, tangan kita terulur bukan hanya saat menerima pemberian dari orang lain, namun dan terutama mengulurkan tangan untuk rela berbagi, murah hati. Dalam hal ini, hendaknya kita mempunyai keyakinan bahwa bila kita mau membagikan kemampuan kita, kita tidak akan kekurangan dan orang lain juga tidak akan kelebihan. Itu saja.
Lalu, apa yang dapat kita buat? Anda kami ajak untuk mengenali bakat-bakat yang ada pada diri anda. Bukan pertama-tama bakat-bakat yang besar, hebat, spektakuler. Mulailah melihat dan menyadari kemampuan yang kecil. Misalnya: senang menyapa rekan lebih dahulu. Ini pun merupakan kemampuan atau talenta yang baik. Tidak setiap orang apalagi zaman sekarang yang kuat egoismenya mampu menyapa rekannya lebih dahulu. Mengucapkan Selamat pagi/siang/sore/malam juga merupakan kemampuan yang perlu dikembangkan dan dibagikan. Apa sulitnya menyapa orang lain lebih dahulu. Kemampuan komputer, mengarang, bernyanyi, dsb. tentu saja tetap bisa dibagikan. Bagaimana dengan sikap kita sendiri bila ada yang meminta bantuan?
Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk berbagi, murah hati kepada teman-temanku. Aku semakin menyadari bahwa talenta yang aku punyai melulu dari-Mu, kepandaiaku adalah anugerah dari-Mu yang seharusnya aku bagikan dengan murah hati juga.
|
|
Wednesday, June 17, 2009, 02:37 - RENUNGAN
Posted by superadmin [Administrator]
Seorang anak muda tergeletak di ruang ICU suatu rumah sakit swasta. Dia sudah dua hari ini tidak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah. Ia harus ditambah darahnya, harus ditransfusi. Untuk mencari darah golongan A saat itu tidak begitu mudah. Bila ada darah A pun belum tentu cocok untuk dia. Dan bila darahnya jadi ditransfusikan, juga belum menjamin dirinya sadar dan sembuh. Akhirnya, kehendak manusia lain dengan kehendak Tuhan. Sebelum anak muda tadi sadar, Tuhan telah mengambil hidupnya. Orang menyangka bahwa usaha mencari darah tadi sia-sia. Sepertinya, orang yang mendonorkan darahnya juga tanpa hasil. Pada saat ini orang terbuka matanya bahwa hidup itu mahal, karena hidup adalah anugerah. Artinya, hidup itu melulu rahmat, pemberian cuma-cuma dari Allah.Posted by superadmin [Administrator]
Masih berhubungan dengan hidup, yaitu udara segar yang kita hirup setiap hari, setiap waktu. Pernahkah Anda membayangkan bila dunia ini tanpa oksigen, tanpa udara segar? Mampukah Anda untuk tetap hidup? Bukankah oksigen atau udara segar ini kita ambil begitu saja secara cuma-cuma? Kita ambil begitu saja tanpa bayar. Pada hal bila kita masuk ICU (Intensive Care Unit), kita harus bayar minimal satu juta rupiah untuk ruangannya, belum biaya alat-alat serta obatnya, masih harus juga bayar dokternya. Nah, kalau Anda masuk ICU selama lima hari saja, tinggal kalikan dengan biaya per harinya. Namun, berapa yang Anda bayarkan kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup dan oksigen setiap saat?
Pengalaman-pengalaman ini sebenarnya mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup itu suatu anugerah. Pemberian dari Allah yang hendaknya kita syukuri dengan menghargai setiap waktu yang kita punyai. Mari kita gunakan waktu yang ada ini untuk memuliakan Tuhan lewat kemampuan yang ada pada kita. Marilah kita teruskan anugerah Allah yang kita terima kepada teman-teman kita yang membutuhkan.
Doa: Ya Yesusku, terimakasih atas anugerah hidup yang telah Engkau berikan kepada kami. Semoga kami mampu berterimakasih kepada-Mu dengan meneruskan dan membagikan anugerah-Mu itu kepada saudari-saudara yang ada di sekitarku.
|
|
Monday, June 15, 2009, 16:30 - RENUNGAN
Posted by Administrator
Kemajuan jaman, banyak sarana canggih semakin membantu dan meringankan diri kita. Di satu pihak, banyak pekerjaan kita bisa lebih cepat. Komputer, misalnya, merupakan salah satu sarana yang sangat membantu dalam tulis-menulis, penyimpanan data, dan pengolahannya. Di lain pihak, bila orangnya sendiri tidak bisa mengendalikan diri, bisa jadi kita dikendalikan oleh alat. Yang tadinya sarana malah menjadi pengendali kita. Yang tadinya kita operasikan, malah menjadikan diri kita buruh, kita dipaksa mengikutinya. Tahu-tahu, waktu kita habis di depan komputer. Pada hal belum tentu yang kita buat di komputer itu tugas-tugas kita. Kita mudah tergoda untuk main-main, mendengarkan musik, melihat film, atau mencari data-data di internet, termasuk gambar-gambar yang syuuurr.....Posted by Administrator
Sudah begitu, pikiran kita ke mana-mana karena dipacu oleh alat canggih yang namanya komputer tadi. Sebagai orang muda, muncul banyak ide dan impian-impian. Satu impian belum terlaksana, sudah datang lagi impian yang lain. Baru mengerjakan impian yang satu, muncul ide yang lain. Sepertinya otak ini tidak mau dibendung dan tidak mau berhenti. Ide-ide itu berdesak-desakan ingin dikeluarkan dari pikiran dan hati. Mereka tidak sabar untuk antri.
Belum selesai mata memandang monitor, dirinya dikejutkan oleh HP yang bergetar di sakunya. Lalu dengan cepat dan lincahnya, jari-jari yang mungil menari-nari membuka dan membalas SMS. Sampai-sampai orang muda sekarang ini dijuluki generasi Windows. Bagaimana tidak? Tangan kiri memegang buku (katanya belajar), tangan kanan memegang remote TV (sambil mencari acara yang menarik), di telinga ada earphone mendengarkan MP3, tiba-tiba HP berbunyi, remote diletakkan, hp diambil lalu dibuka, langsung membalas SMS yang masuk. Kembali lagi mata melihat buku pelajaran dan kadang-kadang melirik program TV. Kaki sambil menghentak-hentak kecil mengikuti irama musik yang masuk di telinganya.
Apa impian dan idealisme orang-orang muda seperti ini? Tiada hari tanpa musik dan Hp. Mereka mengatakan belajar, namun sambil mendengarkan musik, dan melihat tayangan televisi. Itulah generasi Windows. Generasi yang dapat dikatakan takut dan sulit keheningan. Mereka adalah orang-orang muda yang mempunyai banyak impian. Mereka mempunyai idealisme tersendiri. Semestinya mendapatkan dukungan dan pendampingan dari para orang tua.
Doa: Tuhan Yesus, semoga hingar-bingar dunia tidak sampai menghanyutkan hidup dan perjalanan kami sebagai anak muda. Ajarilah kami seperti Diri-Mu sendiri, mampu menyisihkan waktu untuk hening bersama Bapa di surga
|
|
Monday, June 15, 2009, 16:27 - RENUNGAN
Posted by superadmin [Administrator]
Siapa yang tidak minder bila melihat temannya serba bisa. Bisa berolah raga, pelajaran pandai, main musik jitu, begaulnya juga jos, banyak temannya, dan lagi ... pandai memasak. Nah, segudang kepandaian dia sandang. Sementara diriku ...? Berdiri di depan kelas saja sudah membuat teman-teman tertawa terbahak-bahak, sulit berhenti. Mereka tertawa bukan karena saya pandai ber-akting; juga bukan wajahku lucu dan culun (saya cukup ganteng lho!). Mereka tertawa karena gerakku kaku dan tidak menarik. Bahkan saat main komedi, orang-orang mentertawakan group kami bukan karena lucunya, tetapi karena aku, groupku jadi amburadul. Teks yang aku hafalkan lupa semua. Kacaulah!Posted by superadmin [Administrator]
Situasi seperti itu tentu tidak diminati oleh orang muda. Bila demikian, orang mudah menjadi minder, menyendiri, menarik diri, meratapi diri dan orang tuanya: mengapa aku dilahirkan seperti ini, dari keluarga ini, dst., dst. Orang menjadi tertekan bila tidak bisa sesuatu; bila tidak bisa membuat seperti teman-teman sebayanya.
Rekan-rekan muda, pengalaman ketidakmampuan di atas kiranya untuk saat ini tidak perlu terlalu dirisaukan. Segala sesuatu ada waktunya. Orang tidak perlu menjadi bunglon dan mengikuti orang lain untuk bisa sukses atau untuk bisa berhasil. Berbagai kelebihan belum tentu menjamin keberhasilan hidup. Di sekitar kita ada orang yang biasa-biasa saja, tapi disukai banyak orang dan hidupnya tidak pernah kesusahan. Bila ada orang yang pandai bermain musik atau basket, kita tidak perlu jumpalitan memaksakan diri untuk bisa mahir seperti mereka. Itulah kelebihan mereka dan kita tidak perlu iri pada kelebihan tersebut. Semua orang pasti punya kelebihan. Masalahnya, dia tahu dan menyadari kelebihannya itu apa tidak. Apakah dia sadar akan talenta yang diterima dari Tuhan? Yang diberi banyak, harus bertanggungjawab banyak juga.
Jati diri adalah suatu realitas pada diri yang melekat erat menyatu tak terpisahkan. Saat inilah anda diajak untuk mengenali talenta yang melekat dalam diri anda, dan jadilah diri anda sendiri; bukan mengikuti orang lain.
Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk menjadi diri sendiri, menerima diriku sebagaimana adanya, mampu mengucap syukur atas anugerah yang Kauberikan kepadaku. Amin.
|
Calendar

