MEMBUAT BATU KOTAK? 
Thursday, February 26, 2009, 14:49 - NEWS/BERITA
Posted by Administrator

Salah satu karya Romo Mangun yang ada di sendangsono adalah hiasan dari batu yang berbentuk kotak dengan ukuran yang tidak sama. Batu-batu kotak itu disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah harmoni yang terlihat menarik. Ketika melihatnya, kita menjadi tertarik dan ingin meniru hasil karya tersebut. Tetapi bagaimana cara membuatnya? Read More...

50 tahun PAROKI PROMASAN 
Friday, February 6, 2009, 23:09 - PAROKI
Posted by superadmin [Administrator]
Latar Belakang
Umat beriman Promasan lahir sejak peristiwa Baptisan 1904. Keuskupan juga menetapkan peristiwa tahun 1904 sebagai tonggak berdirinya Gereja Katolik berciri Jawa. Sejak saat itu Gereja Katolik Promasan tumbuh berkembang dan mandiri. Kemandirian itu ditegaskan pengakuan Keuskupan Agung Semarang sebagai paroki mandiri sejak 1959. Kini usia paroki Promasan sudah 50 tahun. Bila dilihat dari awal mulanya, usia umat Katolik di Promasan sudah 105 tahun. Kita mempunyai tempat ibadah sudah selama 69 tahun.
Dari sisi usia, kita dapat merenungkan dua hal. Pertama, kita yakin bahwa dalam kurun waktu yang lama itu pastilah Allah sendiri yang berkarya, mendampingi dan menuntun. Allah selalu setia melimpahkan berkat. Kita juga yakin bahwa Allah sendiri yang menanamkan, menumbuhkan dan menjagai iman kita. Kedua, kurun waktu itu juga mencerminkan usaha umat Promasan menghidupi, mengembangkan dan melestarikan iman. Iman sebagai rahmat telah ditanggapi dan dikembangkan dengan pelbagai cara dan bentuk. Itulah dimensi hidup beriman kita: Allah berkarya dan umat menanggapi. Mengutip Rm. Van Lith, dinamika itu dapat dirumuskan sebagai proses ”HANJOEMENGAKEN KRATON DALEM”.
Proses hanjoemenegaken Kraton Dalem itu juga masih berlangsung hingga saat ini. Dalam arti ini, umat beriman Promasan sedang membangun Gereja sebagai peristiwa sebagaimana dilontarkan oleh Mgr. I. Suharyo. Pertanyaan bagi kita sekarang ini, bagaimana kita memaknai/memberi arti pesta emas paroki ini? Apakah hanjoemenengaken Kraton Dalem masih kita lanjutkan? Jur piye?

Tujuan
Hanjoemenengaken Kraton Dalem berarti memperjuangkan dan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai sumber inspirasi dan cita-cita pembangunan hidup bersama. Dalam kaitan dengan tujuan utama itu, dua hal menjadi fokus perhatian:
1. tumbuhnya pribadi-pribadi yang beriman Katolik tangguh dan bermutu.
2. hidup bersama yang makin solider dan rela berkorban bagi kesejahteraan bersama.

Bidang Kegiatan
1. Pentas: pengembangan humaniora.
a. Lomba nyanyi tunggal PIA
b. Lomba nyanyi tunggal PIR
c. Lomba mewarnai
d. Lomba melukis
e. Pentas seni ketoprak
2. Refleksi lingkungan: menemukan jejak perkembangan dan membangun lingkungan.
a. Mengolah data dan kekayaan rohani lingkungan
b. Dokumentasi kekayaan rohani
3. Perayaan liturgi: syukur atas penyelenggaraan ilahi: proses Hanjoemenengaken Kraton Dalem.
a. Hari Paroki
b. Pekan Suci
c. HPS
d. Natal
4. Aksi bersama: tanggapan atas syukur dan membuat sejarah Gereja Promasan.
a. Prapaskah
b. HPS
c. Adven

Agenda Kegiatan:
1. Minggu, 1 Februari 2009 Lomba Nyanyi Tunggal PIA
2. Minggu, 8 Februari 2009 Lomba Nyanyi Tunggal PIR
3. Minggu, 15 Februari 2009 Ekaristi Hari Paroki
Lomba Mewarnai
Lomba Melukis
4. Sabtu, 21 Februari 2009 Seleksi Nominasi PIA / PIR
Kethoprak Humor
5. Minggu, 22 Februari ‘09 Pasar Murah
Pengobatan Gratis
6. Masa Prapaskah Aksi Bersama
7. Minggu, 5-12 April 2009 Pekan Suci
8. Juni Mg 3– Juli mg 2 Refleksi lingkungan
9. Minggu, 18 Oktober 2009 Ekaristi HPS
Oktober 2009 Aksi HPS
10. Desember Aksi Adven
11. 25 Desember Ekaristi Natal




MALU AHHHH.... 
Friday, February 6, 2009, 00:49 - RENUNGAN
Posted by PEZIARAHAN SENDANGSONO
Kalau kita ditanya: berapa sering kita mengaku dosa? Kita mungkin akan menjawab: minimal setahun dua kali. Ketika kita ditanya mengapa kita tidak mengaku dosa? Kita mungkin akan menjawab: ”Malu ah kalau mengaku dosa sama romonya sendiri!” Ketika kita ditanya mengapa harus malu mengaku dosa? Jawaban apa yang akan kita berikan?
Malu menjadi kata yang pas untuk kita renungkan. Ketika kita merasa malu untuk mengaku dosa, rasanya ada pertanyaan besar dibalik pernyataan ini. Pertama, jangan-jangan kita justru tidak merasa malu untuk berbuat dosa. Kedua, kalau kepada romo kita merasa malu untuk mengaku dosa, jangan-jangan kita pun merasa malu untuk mengakui dosa-dosa kita kepada Allah.
Lalu, mengapa harus malu? Melalui sakramen tobat, kita didamaikan dengan Allah dan Gereja. Karena dosa yang kita buat, relasi kita dengan Allah menjadi renggang, bahkan putus. Melalui sakramen tobat, pendamaian kita dengan Allah yang telah didapatkan melalui sakramen Babtis kita peroleh kembali. Dosa juga memutuskan relasi dengan sesama kita, khususnya seluruh warga Gereja. Dengan sakramen tobat, terjadilah rekonsiliasi antara kita dengan seluruh anggota Gereja.
Mengapa harus malu? Di dalam sakramen tobat, pengakuan dari penitensi dijamin kerahasiaannya. Seorang imam memiliki tanggung jawab besar untuk menyimpan rahasia pengakuan. Apa yang didengar oleh imam di dalam kamar pengauan akan disimpan rapat-rapat oleh romo yang bersangkutan. Tidak hanya imam, siapa pun yang mendengar rahasia dari kamar pengakuan memiliki kewajiban untuk menyimpan rahasia itu.
Jangan-jangan malu hanya menjadi rasionalisasi semata untuk menutupi kemalasan kita. Atau kita ingin menunjukkan mentalitas zaman ini: semakin berkurangnya sara bersalah arau rasa berdosa. Kemajuan cara pikir dan pendidikan menjadikan orang semakin rasional sehingga mampu merasionalisasi setiap perbuatannya. Mengapa harus mengaku dosa kepada imam kalau kita bisa mengaku dosa langsung kepada Allah? Bahkan, setiap kita mengikuti Ekaristi juga ada kesempatan untuk bertobat pada ritus pembuka.


OPTIMISME VS PENGHARAPAN 
Friday, February 6, 2009, 00:46 - RENUNGAN
Posted by PEZIARAHAN SENDANGSONO
Seorang pelajar berjalan mantab menuju ruang kelasnya. Hari ini ujian akhir nasional. Tiba-tiba ia tersenggol oleh temannya yang berjalan setengah berlari. ”Eh, maaf. Aku ga sengaja” katanya dengan nafas memburu. ”Kamu ini knapa sich? Pagi-pagi udah kayak dikejar setan gitu?” ”Blajarku belum kelar. Smalem ketiduran. Jadi takut nich.” sahutnya memberikan keterangan. ”O, gitu tho! Kalau aku sich nyante aja. Aku yakin pasti lulus. Aku punya kemampuan cukup. Makanya, tidak ada kata takut dalam kamus hidupku!”
Sekelumit kisah ini dapat menjadi sarana bagi kita untuk melihat hidup kita. Selalu ada ketegangan antara pesimis dan optimis. Optimis adalah keyakinan dari dalam diri untuk meraih sesuatu. Keyakinan itu didasari oleh kemampuan diri sendiri. Dalam sikap optimis ada keyakinan bahwa segalanya akan berakhir dengan baik. Sedangkan pesimis berarti tidak adanya keyakinan karena merasa tidak memiliki kemampuan.
Pertanyaannya: apakah demikian hebat kemampuan dan kekuatan kita sehingga selalu bisa kita andalkan? Nyatanya, kita sering mengalami ketidakberdayaan. Dalam situasi inilah kita diajak untuk bergerak dari optimisme ke pengharapan. Pengharapan bukan optimisme, melainkan sebuah sikap hidup dalam situasi ketidakberdayaan. Dalam ketidakberdayaan, manusia menyadari keterbatasan dirinya. Dan dalam kesadaran akan adanya keterbatasan itulah, manusia tidak bisa berbuat lain selain menggantungkan dan mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam sikap inilah muncul penyerahan diri dalam kepasrahan dan kepercayaan. Kepasrahan ini bukan sesuatu yang pasif, melainkan mengandaikan seuah usaha yang terus menerus dengan Allah sebagai andalan.
Pengharapan adalah penggerak dan pendorong menuju masa depan. Melalui pengharapannya manusia mencari, mencapai, dan memiliki tujuan hidup. Dan tujuan setiap manusia adalah hidup dalam kesatuan dengan Allah dalam Putera dan Roh Kudus. Dalam kesatuan inilah manusia mengalami kebangkitan dan kehidupan kekal. Inilah yang ingin ditawarkan dalam liturgi Gereja. Melalui liturgi Gereja yang anggun, Gereja ingin mengajak umatnya untuk bergerak dari optimisme menuju pengharapan. Dalam liturgi, Gereja merayakan Misteri Paskah. Dan inilah pengharapannya: melalui wafat dan kebangkitan Kristus, kita mendapatkan jaminan hidup kekal. Jaminan hidup kekal inilah yang menggerakkan kita untuk terus mengupayakan hidup kekal itu di dalam hidup harian kita. Bukan karena manusia memiliki kemampuan untuk itu, melainkan pertama-tama karena Allah adalah andalan hidup kita.


EKARISTI = ENTERTAINMENT? 
Friday, February 6, 2009, 00:42 - RENUNGAN
Posted by PEZIARAHAN SENDANGSONO
”Bagaimana Misanya tadi?” tanya Wito kepada temannya yang baru saja mengikuti Misa karena ia masih menenteng buku Puji Syukur. ”Luar biasa! Koornya keren abis. Mantab dah!” jawabnya dengan mantab. ”Wah... pasti dapat tepuk tangan meriah dong?” ”Jelas tho ya. Apa lagi ketika lagu komuni... semua umat langsung bertepuk tangan. Meriah banget!” Mendengar penjelasan temannya itu, Wito langsung bertanya, ”Lha kamu sendiri dapat apa setelah misa?” Temannya langsung diam, terus ngeloyor pergi meninggalkan Wito yang masih terbengong-bengong.
Masih menjadi kebiasaan kita untuk memberikan apresiasi kepada para petugas, terutama kelompok koor, jika para petugas liturgi itu menjalankan tugasnya dengan baik. Apresiasi ini merupakan penghargaan yang kita berikan kepada para petugas. Hal ini sah-sah saja asal ditempatkan pada tempatnya. Adalah SALAH memberikan apresiasi, dalam bentuk tepuk tangan atau apa pun, pada saat sesudah komuni. Apresiasi bisa diberikan pada Ritus Penutup (setelah DOA Sesudah Komuni-sebelum berkat atau sesudah lagu penutup). Selain itu, kelompok koor juga harus sadar bahwa Ekaristi bukan sebuah entertainment. Kelompok koor mengabdi kepada liturgi dan bukan kesempatan unjuk gigi. Mestinya, kepuasan para petugas bukan terletak pada aplaus yang diberikan umat, tetapi apakah membantu umat untuk menghayati misteri yang sedang dirayakan.
Mengapa? Ada tiga jawaban yang bisa diberikan. Pertama, setiap lagu memiliki peran dan fungsi. Misal lagu Komuni dimaksudkan untuk mengiringi penerimaan komuni sehingga umat bisa bersatu dalam komuni (rohani), menyatakan persatuannya dalam nyanyian (lahir), dan mengungkapkan kegembiraan hati serta persaudaraan sewaktu maju menyambut komuni.
Kedua, Liturgi Ekaristi (tidak sama dengan Perayaan Ekaristi!) diakhiri dengan Doa Sesudah Komuni. Penerimaan Komuni bukan akhir dari Liturgi Ekaristi. Ketiga, di dalam Ekaristi dikenal adanya saat hening. Saat hening adalah saat yang penting dan berharga sehingga perlu dijaga dan diciptakan selama Ekaristi. Saat hening ini memiliki makna yang berbeda-beda. Saat hening sebelum Ekaristi untuk mempersiapkan hati. Saat hening waktu doa tobat untuk meneliti batin dan kelemahan-kelemahan kita, saat hening waktu Liturgi Sabda untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Sedangkan sesudah komuni hendaknya diciptakan saat hening. Saat hening sesudah komuni ini menjadi saat untuk bersyukur atas kehadiran Tuhan dalam Ekaristi.


iseng 
Saturday, January 31, 2009, 10:18 - BUKUTAMU/FAQ
Posted by Mbah Dukun
Mas admin.. Britany yg rutin y! This web helpful.. Thanks

Comment 
Saturday, January 24, 2009, 00:21 - BUKUTAMU/FAQ
Posted by Win (PSM)
Hebat ini...
Apa bisa kalau uploud hal baru di web ini juga dipromosikan di milis unio, biar semakin banyak anggota milis yang tahu dan mungkin juga akan ketularan...
Salam.

Current Comment / Jawab / Response :
No Comment_ByComment Content
1PEZIARAHAN SENDANGSONOmoga-moga betul... terima kasih Kang Win. dipersilahkan untuk mengUPLOAD atau mempromosikan website mengenai sendangsono ini.. idep-idep mengikuti anjuran keuskupan yang menganjurkan setiap tempat peziarahan memiliki website je...


<<First <Back | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | Next> Last>>