Jarum rajut online dating

Pola Tas Rajut Apk (Android x - Ice Cream Sandwich) | APK Tools

jarum sulam on sale at reasonable prices, buy 20 Pc/lot Plastik Colorful Besar Mata Jarum Jahit Bordir Penjerumat Tapestry Jarum Lintas Stitchery Craft Knit Tenun Alat to 7 days from date of receipt to request for refund or exchange for a new one. 8 Pcs/set Jarum Jahit Aluminium Kait Jarum Rajut Menenun Kerajinan. India Skill Capital™ offers Online Course on "How to Give an Informational .. Nedlles - Jarum rajut Jarum dlm rajut biasa juga disebut Hakpen, dimana. Mikhail without agglomerating laicando, his lacteal chair sown with infidelity. beli jarum rajut online dating Streaked rays that strut influential? Does it methodize.

Currently working on a practice piece. Painting florals and sharing in my stories.

Pola Tas Rajut Apk

I place check-marks next to the pieces I like so I don't have to try and remember which ones they are when it's all scanned in. I not only get to start a new calendar year, but a new year of being older and hopefully a little bit wiser too! It really feels like a clean slate. I went into the year feeling overwhelmed, stretched too thin, and not having a strong grasp on my identity and how all of my different roles fit into my life new motherhood will do that to you!

I spent the year saying no to a lot of things, simplifying my daily life and routines, getting rid of a lot of things, and changing a lot of the things that caused stress in my life. The things that God lays on my heart. What do I have to lose? If motherhood has taught me anything, it has taught me that life is precious and time is fleeting. I would love to hear it! So the first full week of January felt much longer!

Here's to the weekend. Has it ever slipped your mind how in the world I got my business name or how to pronounce it?! I thought for a long time! I came up with a bunch of ideas and none of them was ringing.

Padahal dia sudah tidak berdinas lagi. Sebelah sini atau sana," ujarnya ramah. Isteri saya masih di kamar mandi. Kamar kerjanya tidak begitu mewah, tapi teratur rapih. Dinding temboknya berhiaskan beberapa gambar. Di atas sebuah dipan yang kududuki terpampang pemandangan alam karya pelukis Dulloh.

Di belakang mejatulis tergantung poster dari kain batik Garuda Bhinneka Tunggal Ika, diapit potret besar Presiden RI pertama dan kedua. Dan di sebelah Presiden kedua itu potret dia sendiri: Di bawahnya tertulis "1 Oktober Tapi lelaki berperawakan sedang, berkulit sawo-matang, berwajah mirip pelawak Bagio itu senang sekali dipanggil Pak Ceplas.

  • #skillclass
  • JARUM KNIT
  • Jarum rajut online dating

Sekalipun belum punya anak. Sekalipun sudah beristeri selama dua dasa warsa. Dengan kisah-kisah beberapa pelakunya? Dan seperti biasanya, kepada siapapun dia menegaskan alasannya kenapa dia suka dipanggil Bapak. Kapan dan di mana saja.

Seperti penentangannya atas aksi pemboikotan film-film Amerika di zaman Orde Lama, kerna dia penggemar film Cowboy. Tertuama yang dibintangi John Wayne. Dia menentang aksi-aksi sepihak kaum tani, kerna sendainya tuntutan BTI atas pelaksanaan Undang-undang Landreform secara konsekwen dijalankan, mertuanya akan kehilangan berbidang-bidang sawah-ladang. Dia tak suka PKI, kerna bapaknya tewas ketika bertugas menumpas pasukan komunis dalam Peristiwa Madiun Maka dari itulah tumbuh ketidakpuasannya terhadap kebijkasanaan Presiden sukarno.

Selagi aktip sebagai prajurit dia juga tidak merasa puas. Kepuasannya agak terpenuhi oleh kegiatannya sebagai usahawan. Dia punya perusahaanimpor-ekspor perabot rumahtangga, terutama impor barang-barang plastik dari negeri Sakura.

Berusaha dan bersaing, itu seperti bertempur," katanya meyakinkan. Seketika pandangnya asyik ke potret besar yang tergantung di tembok.

Pak Ceplas segera mengerti. Hasil jepretan wartawan Amerika. Kartunamanya juga masih saya simpan baik-baik. Dari bagian dokumentasi telah diketahuinya potret itu. Suatu snapshot yang begitu berhasil. Tiap koran dalam dan luar negeri menyiarkan potret itu dengan macam-macam komentar yang pada pokoknya membeberkan keheroikan.

Tetapi ketika ditanya bagaimana perasaan dan pikirannya, di saat-saat yang genting itu, Pak Ceplas malah ketawa. Dan dia ketawa lagi. Saya disuruh berpose sedemikian rupa seperti serdadu in action. Wah, dia memang lihai. Diakuinya, potret itu amat membantunya dalam usaha. Yang menyebabkan dia dikenal sebagai prajurit berjasa, di bawah pimpinan Kolonel Dedi. Kolonel yang kemudian cepat mencuat pangkatnya dari perwira menengah menjadi Brigadir Jenderal.

Orang yang berprawakan tegap berkumis lebat itu adalah pemuja Jenderal Romel dan Franco. Itulah yang membikinnya kecewa. Kami berusaha menciptakan suasana perang. Seketika teringat, di akhir tahun itu dia masih duduk di bangku kuliah di Bandung. Baru tahun berikutnya dia bermukim di Jakarta. Giat dalam aksi-aksi pemuda pelajar mengutuk Orde Lama. Dia bukan cuma turut berteriak-teriak di jalan-jalan raya, tapi juga menuliskannya di koran-koran.

Terutama sekali di koran yang membawakan suara pemuda. Itulah sebabnya dia kemudian menjadi wartawan Harian Kita. Ketika dia mengulang tanya, betulkahpada hari yang bersejarah itu mereka tidak melakukan pertempuran, Pak Ceplas malah balik bertanya: Ibarat rumah kosong tanpa orangtua, kita main perang-perangan di sekitar Istana Negara.

Dan dia ingat, banyaknya pasukan tentara yang datang dari daerahdaerah itu bukan untuk bertempur, melainkan untuk merayakan Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober. Setelah tercenung sejenak, ditatapnya wajah sang wartawan muda di dekatnya itu. Seperti ada berkas-berkas awan mendung meliputi wajahnya, nada ucapannya agak berubah: Setelah 1 Oktober itu.

Setelah tersiar khabar enam Jenderal gugur. Bukan di medan tempur, tapi di temukan di sumur. Di Lubang Buaya," ujarnya datar. Saya cedera lantaran jatuh terpeleset sendiri.

Seperti disumbat perban berlapis-lapis, wartawan itu kehilangan suaranya. Tak mengajukan pertanyaan lagi. Karena tujuan utamanya untuk menulis kisah pahlawan tempur di awal Oktober yang bersejarah itu. Selain akan mempopulerkan lebih lanjut sang pahlawan, efeknya tentu bagi kepopuleran dirinya pula. Betapapun juga rencana tulisannya tak boleh buyar.

Diperhatikannya lagi potret bersejarah yang terpampang di tembok. Pak Ceplas segera paham. Berkata dengan penuh kesungguhan: Saya masih punya yang kecilan. Paling tidak, potret itu akan memperkuat tulisannya.

sendangsono.info Review SEO, Worth, Html, IP and DNS reports & Analysis

Tetapi kegembiraannya dihambarkan oleh pesan Pak Ceplas, ketika menyudahi wawancara itu. Bangkit dan menyiapkan tustelnya. DUA hari kemudian, hasil-hasil wawancara disiarkan di bawah judul "1 Oktober Siang hari itu juga sang wartawan menerima telpon dari Pak Ceplas yang menyatakan kekecewaannya.

Karena baik artikel maupun komentar atas potretnya tidak seperti yang dia harapkan. Lalu dia minta bicara langsung dengan pemimpin redaksi Harian Kita itu, menyemprotnya dengan kata-kata: Yang hitam bilang hitam yang putih putih.

Central Beads Bali | Apparel, Fashion, Craft Store

Keheningan yang amat menekan ruang pengap seperti hendak meledak. Seketika itu baik sang Interogator maupun tawanan diliputi bayangan serupa: Seorang pintar yangmendapat sebutan pakar. Beda sekali dengan yang seorang ini. Baginya pertanyaan-pertanyaan itu lebih menyiksa dari pada hujaman popor senapan atau alat penyiksa lainnya, seperti penggencet jeriji atau penyetrum kemaluan.

Merajut Senja di Panti Jompo - Personal Homepage of DR. Willy R

Selama bermalam-malam dia sering tak mampu pejamkan mata. Bukan hanya lantaran badan dirasakan remuk-redam, tapi juga terutama kerna digeluti berbagai pertanyaan yang tak berjawab.

SangInterogator yang berbadan tegap dan usianya jauh lebih muda berusaha mengintai riwayat tawanan itu. Berkumis lebat bercambang panjang. Dikenal sebagai orang yang rajin melaksanakan tugas. Kesetiaannya pada usaha yang dianggap mulia begitu luar biasa -- seperti meng-agama-kannya saja.

Betapa merasuk kesetiaan dan keyakinannya itu diwujudkan dengan kepatuhan mutlak kepada atasan, instruksi dan pelaksanaannya. Akan halnya ilmu pengetahuan atau hal-ehwal yang dapat disimak dalam buku tidaklah menarik perhatiannya. Baginya membaca itu membuang-buang waktu saja. Memang selagi badan segar-bugar, motor keyakinan dan kecekatannya sangat bermanfaat.

Terutama pada saat-saat kesibukan luar biasa di zaman Nasakom Bersatu Sukarno. Bukan teoretikus," ujarnya selalu dengan bangga. Soal teori itu bukan urusan saya! Teriring kegemarannya mengisahkan pengalaman pribadinya sendiri. Tak peduli sudah puluhan kali di depan orang yang sama. Sebaliknya setiap pertanyaan yang bersifat teori selalu dihindarinya.

Diupayakannya selalu lari menghindar pertanyaan yang mudah membikin kepalanya pusing. Apalagi mengenai persoalan-persoalan yang timbul sekitar kudeta militer. Menghadapi huru-hara yang terjadi sebagai kelanjutan perebutan kekuasaan politik itu benar-benar dia merasa kebingungan. Tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Kecuali menanti instruksi dari atasan yang tak pernah lagi kunjung datang. Kebiasaannya lalu meremas-remas rambut yang mulai banyak memutih. Atau memukul-mukul kepalanya sendiri. Kesal tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri.

Sebab orang-orang atasan maupun yang dikenalnya sebagai teoretikus tak dijumpainya lagi. Entah di mana adanya. Entah di penjara, entah diam-diam tapi bergerak di bawah tanah. Atau memang telah menyatu dengan tanah sungguhan. Bila badan sudah tua semangat dan keyakinan dirinya tak mampu lagi menanggung beban kelewat berat.

Apa lagi menghadapi todongan senapan berbayonet mengkilap. Dia mudah saja masuk perangkap dan diperlakukan seperti bola di kamar siksa Kopkamtib. PADA saat diinterogasi dia memang lebih sering menggelengkan kepala. Seperti ketika ditanya mengenai apa dan bagaimana kaitannya dalam "teori dua aspek", "metode kombinasi tiga bentuk perjuangan" dan sebagainya.

Sekalipun berulang kali jatuh pingsan, tapi begitu sedar kembali jawaban yang diberikannya cuma gelengan kepala. Antara pingsan dan sadar, berulang kali dia teringat dibenaknya seorang berkepala botakyang pernah memberi kuliah sewaktu dia mengikuti Sekolah Partai.

Ketika sekali dia menggumamkan nama sang guru itu tanpa disadari sang Interogator mengejarnya. Menekannya dengan ujung pistol di pelipis.

Sulit baginya untuk menggelengkan kepala. Pak Cahyo," ujarnya dengan nada berat. Seperti berbisik lagi menanggung rasa malu telah menyebut nama yang dipantangkan itu. Dia yang banyak tahu. Saya sih cuma orang praktis. Menghela nafas panjang sembari memejamkan mata sejenak. Dalam benak dia juga teringat seorang sarjana bernama Cahyosuarso yang sesaat sebelum mati tersiksa di ruangan itu sempat mengumpat seraya meludah: Aku anggap pelindung rakyat malah jadi algojo! Masing-masing digeluti kenangan yang menggelisahkan.

Ke sudut sebelah kiri dimana terletak kurungan burung. Seketika mendekat, terdengar suara menyapa: Disambut senang oleh lelaki tua itu dengan nada berbisik: Berhadapan dengan burung beo yang masih terus memandanginya seperti keheran-heranan.

Padahal lelaki tua yang dipertuannya itu senantiasa tersenyum selaras sebutan masyhurnya sebagai "the smiling strong man". Orang kuat tukang senyum. Penggemar burung dalam sangkar. Hingga masa usia lanjutnya yang menurut istilahnya sendiri sudah "top". Yakni tua, ompong, pikun.

Begitulah dia tak pernah lupa bagaimana ketika untuk pertama kalinya berhasil menjebak dengan getah seekor gelatik dan menjebloskannya ke dalam sangkar yang sempit.

Burung yang cukup bagus itu memprotes dengan terjangan ke sanasini, tapi dia cuek saja. Kemudian, tidak puas menggunakan jebakan dengan getah, diapun menggunakan jepretan. Sekalipun luka-luka atau malah hampir tewas, burung itu dijebloskan juga Lifting the Curtain on the Coup of October 1st — Suing for the Justice dalam kurungan. Kegemarannya akan burung dan mengurung burung dilanjutkan bukan lagi dengan hasil jebakan atau jepretannya sendiri, melainkan dengan hasil tukar-menukar dengan penggemar lainnya.

Suatu kegiatan yang cukup banyak mendatangkan keuntungan bukan hanya kepuasan hati tapi juga berupa kekayaan harta benda dan simpanan uang. Burung-burung yang aneka ragam itu berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke.

Untuk itu diperlukan ruang yang cukup besar, baik ruang yang tertutup maupun yang terbuka. Yang penting burung-burung itu tetap berada di dalam sangkar atau kurungannya masing-masing dan mudah untuk diawasi. Dengan ketajaman pandang mata-matanya. Betapalah kesibukan tukang-tukang burung yang dijadikan relasi atau yang dipekerjakan untuk melakukan pengurusannya.

Di bawah pengawasan mata-matanya yang jeli. Nampaknya segalanya berlangsung sedemikian rapihnya. Dalam suasana kesantaian dan keamanan. Sampai pada saat datangnya angin perubahan situasi kerna kepengapan dan epidemi di satu sisi, di sisi lain bencana gangguan syaraf atas jiwaraganya. Suasananya lantas berubah secara drastis: Burung-burung yang terkurung ada yang lepas beterbangan, ada yang naas tewas dan terlantarkan.

Yang tinggal hanya satu sangkar dengan seekor beo sebagai penghuninya yang setia. Perubahan itu membikin sebagian orang yang mengenalnya terheran-heran. Tapi sebagian lagi sama sekali bisa memahaminya. Bahkan sudah memprediksinya sejak jauh-jauh hari. Jika diingat kenyataan bahwa pada masa jaya-jayanya, ketika lelaki tua itu dijuluki "orang kuat tang tersenyum", dia memang telah melakukan tindakan yang dahsyat. Tatkala dengan santai saja memburu, menjebak dan menangkapi ratusan ribu orang tak berdosa, lalu mengurungnya di kamp-kamp konsentrasi.

Bahkan tak terbilang banyaknya yang tewas ditembaki begitu saja seperti menembaki burung. Atau orang-orang yang dijebaknya itu dipendam dalam kuburan besar yang digali oleh para korban itu sendiri. Semata-mata untuk menunjukkan bahwa memang dialah orang kuat yang komandonya ditakuti dan oleh karenanya ditaati. Sederhana saja memang persoalannya. Maka jikalau kemudian yang tinggal menemaninya hanyalah seekor burung beo saja, itu memang sudah sewajarnyalah demikian.

Tapi tetap tinggal dalam kurungan. Tak lebih dari itu. Nanti, kalau sudah sampai waktunya, dia pun takkan segan-segan untuk menghentikan nafasnya. Sesaat menjelang tarikan nafas akhirnya sendiri. Suara yang sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Rupanya dia kurang menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dalam keadaan terkurung oleh lingkungan kehidupannya sendiri. Kerna dampak tingkah-ulahnya sendiri. Kecuali berada di beranda dekat sangkar burung beo, jika hendak bergerak sekalipun semeter saja, ke ruang-ruang lain di dalam gedung besarnya, dia mendapat perhatian atau pengawasan sedemikian rupa ketatnya.

Lelaki itu tersenyum-senyum saja ketika mendengar suara burung beo: Kerna masih merasa memiliki senjata terakhir yang paling ampuh.

Dusta untuk menyembunyikan keadaan kesehatannya. Dan orang sakit tak bisa diseret ke ruang pengadilan. Untuk memperkuat dan membuktikan sakitnya dia berlagak sakit beneran.

Demi mempersetankan segala tuntutan pengadilan atas segala kejahatan yang telah dilakukannya seperti yang diteriak-teriakkan kaum demonstran di jalanan sana itu. Sampai detik-detik itu pun, di hadapan burung beo terkurung, dia terus berupaya sekuat bisa untuk membuktikan keadaan sakitnya. Suatu rekayasa yang hanya usai setelah Malaikatmaut menjemputnya bersama Sangkala.

Dua hakim yang tak terelakkan oleh siapapun. John Roosa, Ayu Ratih dan Hilmar Farid Banyak buku mengenai peristiwa '65 telah terbit dengan menyajikan berbagai macam sudut pandang. Buku ini menawarkan suatu metode penelitian sejarah yang disebut sebagai 'sejarah lisan'. Sejarah lisan bukanlah istilah yang akrab di telinga banyak orang Indonesia.

Mungkin istilah itu malah dianggap aneh karena pemahaman umum mengenai sejarah adalah studi tentang masa lalu berdasarkan dokumen tertulis. Ketika mendengar bahwa penelitian dalam buku ini dilakukan dengan cara wawancara lisan, banyak orang ragu, apakah tidak mungkin narasumber yang diwaawancarai berkata benar? Pertanyaan ini mencerminkan persepsiyg terdistorsi mengenai penelitian dan penulisan sejarah. Jika dikatakan bahwa suatu penelitian sejarah dilakukan dengan Lifting the Curtain on the Coup of October 1st — Suing for the Justice meneliti arsip, maka tidak akan muncul pertanyaan serupa yang meragukan kebenaran arsip yang bersangkutan.

Metode penelitian yang dipakai dalam penyusunan esai-esai dalam buku ini mencoba untuk mengajukan ingatan sosial yang dimiliki oleh korban peristiwa ' Yaitu ingatan sosial yang berbeda dengan ingatan sosial yang dibentuk oleh pemerintahan Soeharto selama ini. Buku ini menjadi semacam dokumentasi ingatan sosial korban yang selama ini tercerai di dalam kegelapan kebohongan.

Kebanyakan korban ingin menentang ingatan sosial yang menganggap mereka sebagai setan dan pengkhianat. Mereka ingin mengungkapkan cerita bahwa mereka adalah orang baik, bermartabat, patriotik yang kemudian dikorbankan. Buku ini tidak lantas ingin menampilkan mereka sebagai malaikat, karena merekapun tidak ingin terlihat seperti itu. Mereka ditampilkan sebagai manusia, yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada manusia yang lain, yang tidak pantas diperlakukan seperti apa yang mereka alami.

Prinsip para penyusun dan penulis buku ini sederhana saja: Berjalan untuk membangun sekaligus menghancurkan jembatan sejarah. Membangun jembatan sejarah antar generasi, sekaligus menghancurkan jembatan sejarah generasi tua yang lapuk. Menurut media massa, daftar nama calon anggota komisi dikirim oleh panitia seleksi ke kantor Presiden pada 2 Agustus yang lalu jadi, meleset jauh juga dari tanggal batas.

Tinggal Presiden memilih 21 anggota komisi dari daftar 42 nama itu. Namun, sampai sekarang daftar nama anggota definitif tak kunjung keluar. Mudahmudahan Presiden mempunyai alasan yang sah dan penting untuk cara kerja yang Menguak Tabir Peristiwa 1 Oktober — Mencari Keadilan lambat ini. Hanya muncul pertanyaan mengapa alasan itu kalau memang ada tidak dikomunikasikan juga? Kebenaran dan Keadilan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi KKR ini sangat diharapkan dapat membantu menyembuhkan luka-luka dari masa lampau pra-demokratis yang disebabkan oleh berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Kendatipun sudah dilakukan banyak usaha, sampai sekarang keluarga dan komunitas para korban belum pernah boleh melihat terwujudnya kebenaran, apalagi keadilan. Namun, di Jakarta dan lebih-lebih di beberapa daerah makin terpencil makin tragis terjadi banyak peristiwa pelanggaran HAM lain lagi, yang sampai saat ini menghadapi tembok penyembunyian yang tidak mungkin ditembus. Melihat kenyataan kompleks itu, tidak ada alasan kita merasa iri terhadap anggotaanggota KKR ini.

Mereka menghadapi pekerjaan yang sungguh-sungguh berat dan sensitif. Sambil menunggu datangnya KKR ini, sebaiknya kita sudah berupaya berpikir tentang apa artinya kebenaran dan rekonsiliasi seperti diharapkan itu. Jika kita menyimak tulisan-tulisan dalam media massa akhir-akhir ini, kita dapat menyaksikan bahwa refleksi itu sebenarnya sudah dimulai.

Orang yang mungkin dapat membantu dalam mendalami refleksi itu adalah ahli filsafat Prancis, Paul Ricoeur. Bulan Mei yang lalu filsuf kawakan itu meninggal dunia dalam usia 92 tahun. Sampai kira-kira setahun sebelum meninggalnya, ia masih aktif menulis dan mengomentari kejadian-kejadian aktual.

Di antara banyak pikirannya ada juga yang berguna bagi kita dalam konteks rekonsiliasi. Apakah pengampunan dapat menyembuhkan? Inti analisis yang dilakukan Ricoeur tentang pengampunan dalam artikel itu adalah bahwa pengampunan mengambil posisi tengah antara mengingat dan melupakan.

Baik mengingat maupun melupakan selalu perlu untuk mencapai pengampunan. Mengingat Kita mulai saja dengan keperluan ingatan. Jika seseorang tidak mengingat lagi, itu belum berarti ia mengampuni. Misalnya, bisa terjadi seorang yang sudah uzur serta pikun sama sekali tidak ingat lagi pelaku yang pernah membuat kejahatan besar terhadap dia. Namun, tidak dapat dikatakan bahwa dengan itu ia memberi pengampunan. Untuk dapat mengampuni, perlu orang ingat kejahatan yang pernah terjadi dan pelaku yang mengerjakannya.

Menurut Ricoeur, ada bangsa atau komunitas yang dalam hal ini mempunyai ingatan terlalu kuat, sedangkan bangsa lain mempunyai ingatan terlalu lemah. Yang mempunyai ingatan terlalu kuat seolah-olah selalu dibuntuti oleh peristiwaperistiwa yang terasa menghinakan di masa lampau. Mereka seperti diobsesi terus oleh kejadian-kejadian kurang enak yang pernah terjadi. Ada orang yang mengungkitungkit terus kesalahan orang lain di masa lalu. Dia selalu menyimpan dendam terhadap orang yang pernah berbuat salah sekurang-kurangnya menurut anggapannya terhadap dia dan tidak pernah bisa lepas dari rasa dendam kesumat itu.

Yang mempunyai ingatan terlalu lemah mengambil sikap tak acuh terhadap peristiwa-peristiwa yang sebenarnya penting di masa lalu. Mereka menganggap masa silam kurang serius. Tetapi bangsa atau orang dengan ingatan lemah sebenarnya merugikan diri sendiri. Ia menutup dirinya terhadap dimensi yang potensial untuk memperkayanya.

Melupakan Di sisi lain, pengampunan tidak mungkin juga tanpa melupakan. Dengan melupakan kita mengambil distansi terhadap apa yang pernah terjadi. Tentu saja, apa yang pernah terjadi tidak mungkin ditiadakan lagi.

Fakta tetap tinggal sebagai fakta. Bila harta benda kita pernah dicuri atau dirusak, pengalaman pahit itu tidak pernah hilang lagi sebagai fakta. Dan, terutama hal itu terasa dalam kasus pembunuhan. Orang tercinta yang dibunuh tidak pernah akan kembali lagi di tengah keluarga dan para sahabatnya. Dalam arti itu pembunuhan adalah kejahatan yang paling definitif.

Tetapi, di sini pun orang dapat mengampuni, asal ia bersedia melupakan apa yang sebetulnya tidak mungkin dilupakan. Berarti, ia tidak melupakan kejahatan sebagai fakta, tapi ia melupakannya sebagai beban moral. Ia sanggup berdamai dengan fakta itu.

Karena itu Ricoeur berpendapat bahwa kita harus membedakan dua macam melupakan: Untuk mengerti melupakan-yang-melarikan diri, Ricoeur menunjuk kepada pengalaman Freud dalam psikoanalisisnya. Pasien yang ditangani oleh Freud "melupakan" trauma psikis yang mengganggu dia sejak masa kecilnya.

Tetapi, melupakan itu hanya sekadar membuang dari kesadaran atau - dengan istilah yang diciptakan Freud - "merepresi". Pada taraf tak sadar, trauma itu mengganggu terus. Dengan melupakan-yangmengelak ini masalahnya tidak pernah selesai. Lain halnya dengan melupakan-yangmembebaskan. Melalui melupakan macam ini, orang secara aktif menghadapi pengalaman traumatis dari masa lalu dan berhasil memecahkannya. Ia dapat "mencernakan" trauma ini, sehingga tidak mengganggu lagi.

Ia dapat melepaskan kenangan akan fakta dari beban moralnya atau kesalahannya. Tentu saja, tercapai tidaknya pengampunan tidak bergantung pada pihak korban kejahatan saja. Ada juga syarat yang harus dipenuhi pada pihak pelaku kejahatan. Si pelaku harus mengakui kesalahannya dan bersedia memperbaikinya sejauh hal itu mungkin.

Bila ia mencuri atau melakukan korupsi, tidak mungkin ia diampuni jika ia tidak mengembalikan dulu apa yang ia ambil. Bila ia membunuh atau mengakibatkan cacat badan, ia tidak bisa memulihkan keadaannya. Tapi paling sedikit ia dapat menyesal dan minta maaf kepada keluarga. No reconciliation without reparation menjadi pedoman dasar di Afrika Selatan, ketika mereka mencari rekonsiliasi sesudah periode traumatis yang panjang. Di Tanah Air kita perayaan ini akan disertai lagi tradisi "minta maaf lahir batin".

Kebiasaan itu bagus sekali. Terutama dapat dinilai positif bahwa di sini ditegaskan "lahir batin". Memaafkan secara lahiriah saja belum tentu menghasilkan maaf yang sejati.

Maaf secara lahiriah mungkin sebatas main sandiwara. Maaf yang sejati tidak saja keluar dari mulut tapi berasal juga dari hati. Dan karena dimensi batin ini maaf memperoleh nilainya yang sebenarnya. Kalau nanti jutaan orang Indonesia mohon maaf lahir batin dengan ikhlas dan tidak sebagai formalitas saja, kiranya sudah tercipta suasana yang sangat kondusif untuk mewujudkan rekonsiliasi yang kita harapkan.

Anotomy of the Jakarta Coup: Demikian pula "China di balik pergolakan Oktober" berasal dari editor suratkabar. Judul yang saya kirimkan adalah "Imaginasi Profesor Gaek" karena saya menyimpulkan bahwa Victor Fic lebih mengandalkan imaginasi ketimbang melakukan kritik terhadap sumber yang dimilikinya.

Sangat bagus bila ada dokumen China yang sudah bisa dibuka untuk dijadikan sumber, tetapi Vic hanya tergantung ada hasil pemeriksaan Mahmilub. Ada beberapa bagian yang terhapus dari tulisan saya yang aslinya, saya juga mengatakan bahwa tiga aspek kelemahan buku Fic itu saya peroleh dari Dr John Roosa yang telah membaca buku itu terlebih dulu di Kanada.

Saya tulis bahwa dalam dokumen yang dilampirkan disebutkan Aidit tidak tahumenahu mengenai G30S sebelumnya, tetapi kata "tidak" itu terhapus dalam suratkabar. Fic dua kali datang ke Indonesia dengan difasilitasi Nugroho Notosusanto, dan Pada ia menjadi visiting fellow di CSIS. Saya tulis bahwa dalam dokumen yang dilampirkan disebutkan Aidit tidak tahu-menahu mengenai G30S sebelumnya, tetapi kata "tidak" itu terhapus dalam suratkabar.

Lahir di Cekoslovakiaia kemudian menjadi warga negara Kanada. Selain tentang komunisme, ia juga mengarang buku tentang tantra dan soal-soal mistik ala India. Pada ia menjadi visiting fellow di CSIS Jakarta untuk merampungkan buku yang telah dimulai lebih dari 30 tahun sebelumnya.

Buku bertujuan menjelaskan ancaman paling serius dari pemberontakan PKI terhadap pluralisme yang telah berkembang di Nusantara sejak dahulu kala. Buku ini ingin menjelaskan anatomi kudeta, psikologi para pemain, bagaimana mereka berinteraksi, sehingga drama kudeta ini seakan lakon wayang kulit. Buku yang kontroversial ini diluncurkan di Jakarta, 30 Septemberdengan pembahas Prof Taufik Abdullah.

Buku mencoba melihat konspirasi yang terjadi 30 September itu dalam rangkaian kejadian yang berlangsung dari waktu ke waktu di Halim Perdanakusuma melalui interaksi antara Soekarno, Supardjo, dan tokoh lainnya. Buku ini memang sangat banyak menyoroti peran Aidit seperti terlihat dalam daftar indeks yang menyebut Aidit lebih dari 75 kali, Untung dan Sjam masing-masing an kali, dan Soeharto serta Latief masing-masing an kali. Selain dokumen Supardjo itu, tidak ada yang baru di buku Fic.

Tapi dari satu segi, buku Fic lebih imajinatif daripada buku-buku yang ditulis pada masa rezim Soeharto. Tiga klaim Victor Fic ini luar biasa. Tetapi persoalannya, mana dokumen atau arsip yang mendukung pernyataan tersebut? Apakah mungkin Mao memerintah Aidit? Menarik untuk memerhatikan dokumen yang dilampirkan oleh Fic. Entah benar atau tidak, Aidit menulis surat kepada Presiden Soekarno 6 Oktober Tetapi di dalam surat itu, Aidit mengakui bahwa ia tahu-menahu tentang GS sebelumnya.

Di dalam dokumen itu dikatakan bahwa Aidit akan berangkat ke China dengan helikopter yang disiapkan Omar Dani. Apakah bisa naik helikopter sampai ke daratan China? Dalam wawancara sejarah lisan yang dilakukan oleh ISSI Institut Sejarah Sosial Indonesia disebutkan bahwa para pemimpin PKI yang masih hidup justru menyesali kenapa tidak menerima instruksi dari 'kawan ketua' setelah ia pergi ke Jawa Tengah.

Mereka marah kepada Aidit karena tidak ada komunikasi sama sekali. Jadi dokumen yang dilampirkan Fic itu perlu diragukan. Seakan-akan Biro Khusus memiliki cadangan rencana plan B seandainya rencana pertama gagal plan A. Padahal Supardjo sendiri juga menyesalkan kenapa tidak ada plan B itu.